Menulis adalah Terapi. Pertama kali saya mendengar petuah ini
kalau tidak salah dari Mbak Artha Julie Nava. Katanya dengan menulis kita bisa
relaksasi dan menstabilkan emosi.
Saya dengarkan baik-baik petuah tersebut namun belum sepenuhnya saya
yakini. Waktu itu saya sedang mulai belajar menulis. Yang saya rasakan justru
sebaliknya. Menulis itu malah membuat saya stress. Saya merasa tertekan karena
peer-peer dari kelas menulis membuat pikiran saya terkuras. Saya harus memikirkan
berbagai ide tulisan, berbagai alternatif judul, pesan yang ingin disampaikan,
hingga dikejar deadline. 'Di mana
letak terapinya?' pikir saya waktu itu.
Anehnya meskipun saya merasa tertekan, saya selalu kembali ke
kelas training menulis. Entah apa
yang memanggil saya. Perlahan-lahan saya cerna ilmunya dan mulai saya
praktekkan.
Karena merasa berat bila menulis langsung satu buku, saya ikut
kelas Menulis Artikel di Joeragan Artikel. Saya pikir menulis artikel jauh lebih
ringan dibanding buku. Jumlah kata di dalam artikel jauh lebih sedikit
dibanding buku.
Ketika Joeragan Artikel hendak merayakan ulang tahunnya yang
pertama, Foundernya yaitu Ummi Aleeya berniat membuat sebuah antologi. Beliau
mengundang seluruh alumni training-nya
untuk berpartisipasi di dalam proyek antologi tersebut. Wow, sebuah kesempatan
besar pikir saya. Tanpa ragu saya mendaftar walaupun waktu itu belum punya ide
cerita.
Untuk proyek antologi, Ummi memberikan deadline selama 2 minggu. Selama waktu tersebut, saya tak kunjung
menemukan ide. Ide baru saya dapatkan menjelang deadline. Sementara itu, karya para alumni lain terus mengalir.
Wah, bagus-bagus ceritanya. Tambah nggak pede deh saya. Nyaris saya menyerah
tapi tersentil oleh perkataan salah seorang alumni yang mengatakan,
"Semoga tidak ada yang lari dari kenyataan." Haha ... baiklah, kembalilah
saya menekuni naskah yang belum selesai.
Akhirnya setelah sempat begadang, naskah pun selesai. Ada
perasaan lega yang luar biasa setelah saya berhasil menyelesaikan naskah. Dengan
memberanikan diri, saya kirimkan naskah tersebut ke group Antologi. Perasaan
lega pun bertambah saya rasakan ketika naskah saya dapat diterima dengan baik.
Teman-teman sesama alumni pun berbaik hati memberikan kritik dan saran agar
naskah menjadi lebih baik. Senang hati saya karenanya.
Efek dari berpartisipasi dalam proyek antologi tersebut, saya
jadi ketagihan menulis.
Pagi hari ketika saya masih di perjalanan menuju kantor, saya
menulis dengan memanfaatkan aplikasi Notes di handphone. Saya bebaskan pikiran dan tangan saya untuk menulis
suka-suka. Tak masalah bila tulisan yang dihasilkan masih kasar. Saya merasa lega
dan bahagia ketika berhasil menyelesaikan satu calon naskah di pagi hari.
Perasaan positif di pagi hari itu tentunya menjadi awal yang sangat baik untuk
memulai hari. Saya mulai merasakan kebenaran petuah bahwa menulis adalah terapi.
Terapi bagi jiwa kita.
Setelah calon naskah selesai di pagi hari, calon naskah tersebut
saya endapkan. Siang hari, pada jam istirahat, saya kembali lagi menengok calon
naskah tersebut. Saya membaca ulang dan mengeditnya. Perasaan senang kembali
saya rasakan ketika naskah saya selesai. Langkah selanjutnya adalah memasukkan
naskah saya ke Plagiarism Checker. Saya merasa bertambah senang ketika hasil
pengecekan menyatakan bahwa naskah saya 100% unik. Artinya naskah yang saya
buat bebas copy paste, bebas plagiat.
Dari menulis satu naskah, saya bisa merasa lega, senang dan
bahagia berkali-kali. Mood dan emosi
saya pun bisa terjaga dengan baik sepanjang hari. Sekarang saya meyakini bahwa
memanglah benar menulis adalah terapi bagi jiwa kita.
Gambar bersumber dari http://buahhati.co.id/cara-membuat-anak-rajin-menulis.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar