Berawal dari ga sengaja nonton episode Blind Audition, saya jadi suka nonton The Voice Indonesia 2016.
Saya nontonnya di Youtube, bukan di TV berhubung TV saya lagi rusak dan males betulin hehe...
Saya suka karena menurut saya suara kontestan bagus-bagus. Saya juga suka melihat ekspresi seriusnya para coach ketika mendengarkan suara para kontestan. Mereka terlihat mendengarkan dengan seksama sambil berpikir sebelum memutuskan untuk memencet tombol dan memutar kursi. Ketika seorang coach memencet tombol dan memutar kursi sebelum lagu berakhir, berarti coach tersebut bersedia membimbing sang kontestan.
Yang paling saya suka adalah melihat perdebatan dan saling ledek antara Coach Ari Lasso dengan Coach Judika. Hihihi....seruuuu, saya sampai ketawa-ketawa sendiri nontonnya :D
Coach Ari Lasso itu pembawaannya tenang, ngomongnya meyakinkan terkadang malah tajam. Kalau dilihat dari omongannya, sepertinya beliau pandai menangkap makna yang tersirat dari suatu perkataan. Kalau Coach Judika, beliau itu orangnya ekspresif dan suka terpancing meladeni omongannya Coach Ari Lasso. Lain lagi dengan Coach Agnez Mo. Beliau coach perempuan satu-satunya, relatif tenang namun terlihat sangat menguasai teknik menyanyi dan detail. Coach yang paling tenang menurut saya adalah Coach Kaka Slank.
Saya sendiri tidak mengerti teknik-teknik menyanyi. Saya hanyalah penikmat musik dan lagu. Pendapat saya mengenai para coach maupun kontestan adalah pendapat pribadi berdasarkan kesan saya ketika menonton tayangan tersebut. Semoga saja acara The Voice Indonesia ini dapat menghasilkan semakin banyak bintang baru yang memiliki kemampuan menyanyi luar biasa.
Salam,
Tita Mintarsih
Senin, 28 Maret 2016
Minggu, 27 Maret 2016
Burung Dara Goreng Terang Bulan
Burung Dara Goreng yang satu ini tidak pernah saya lewatkan kalau saya berkunjung ke Yogyakarta.
Rasanya wuihhh....meresap sampai ke dalam, bener-bener nagih deh :D
Awalnya saya mengenal burung dara goreng ini dari teman kantor waktu ada kegiatan di Yogyakarta.
Teman saya itu cinta banget sama burung dara goreng ini membuat saya jadi penasaran.
Setelah saya coba sendiri, ternyata memang benar, rasanya enak bingits hehe...
Burung dara goreng ini dijual lesehan. Tempatnya pas di depan Toko Taman Batik Terang Bulan, Malioboro, satu deretan sama Ramayana.
Jualannya hanya malam hari ya, teman-teman :)
Biasanya saya ke sana sekitar jam 8 atau 9 malam. Ramee banget pengunjung yang datang.
Saya suka suasana di sana. Sambil menikmati burung dara goreng yang enak banget, saya bisa mendengarkan musik yang dibawakan oleh musisi jalanan. Lumayan lengkap loh alat musik yang dimainkannya, suara vokalisnya juga bagus. Saya paling suka kalau mereka menyanyikan lagu Jogjakarta-nya Kla Project. Wuihh... membuat hati meleleh rasanya, betaaah banget di Yogya.
"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja"
Wuihh.... jadi kangen deh maen ke Yogya lagi, makan burung dara goreng lagi hehehe....
Ini ya penampakan burung dara gorengnya :)
Rasanya wuihhh....meresap sampai ke dalam, bener-bener nagih deh :D
Awalnya saya mengenal burung dara goreng ini dari teman kantor waktu ada kegiatan di Yogyakarta.
Teman saya itu cinta banget sama burung dara goreng ini membuat saya jadi penasaran.
Setelah saya coba sendiri, ternyata memang benar, rasanya enak bingits hehe...
Burung dara goreng ini dijual lesehan. Tempatnya pas di depan Toko Taman Batik Terang Bulan, Malioboro, satu deretan sama Ramayana.
Jualannya hanya malam hari ya, teman-teman :)
Biasanya saya ke sana sekitar jam 8 atau 9 malam. Ramee banget pengunjung yang datang.
Saya suka suasana di sana. Sambil menikmati burung dara goreng yang enak banget, saya bisa mendengarkan musik yang dibawakan oleh musisi jalanan. Lumayan lengkap loh alat musik yang dimainkannya, suara vokalisnya juga bagus. Saya paling suka kalau mereka menyanyikan lagu Jogjakarta-nya Kla Project. Wuihh... membuat hati meleleh rasanya, betaaah banget di Yogya.
"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja"
Wuihh.... jadi kangen deh maen ke Yogya lagi, makan burung dara goreng lagi hehehe....
Ini ya penampakan burung dara gorengnya :)
Salam,
Tita Mintarsih
Sabtu, 26 Maret 2016
Cita-citaku Ketika Kanak-Kanak
Kali ini saya ingin cerita tentang cita-citaku ketika kanak-kanak.
Mulai dari TK sampai SMU, cita-cita saya yang pertama tidak berubah yaitu ingin menjadi dokter spesialis anak. Alasannya sederhana yaitu karena sejak kecil, saya cenderung sakit-sakitan dan bolak-balik periksa ke dokter spesialis anak. Saya masih ingat dokter spesialis anak langganan kami namanya dr. Zainal. Kesan yang saya tangkap waktu itu, Pak dokter pinter bangeeet, baik lagi, ingin deh saya seperti beliau. Sejak itu, terpatri di ingatan saya bahwa kalau saya besar, saya ingin jadi dokter spesialis anaak seperti beliau.
Ketika lulus SMU, mulailah kegalauan melanda. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kondisi finansial kami tidak mencukupi bila saya kuliah di jurusan kedokteran. Seandainya pun bisa, kemungkinannya adalah saya bisa kuliah di kedokteran tetapi adek saya tidak punya kesempatan untuk kuliah karena tidak ada biaya. Waaah, ga mau donk saya kalau itu sampai kejadian. Kasihan adek saya. Maunya kan kami berdua sama-sama bisa kuliah dan lulus dengan baik.
Penguatan saya dapatkan ketika mengikuti bimbingan belajar di Gereja Mahasiswa Bandung. Pengajarnya adalah kakak-kakak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di Bandung. Saat itu saya dipertemukan dengan Mbak Rosma, mahasiswa fakultas kedokteran Unpad angkatan 98. Beliau menceritakan realita kehidupan mahasiswa kedokteran dan setelah lulusnya seperti apa. Saya masih ingat Mbak Rosma bilang agar saya berpikir matang-matang. Kuliah di kedokteran itu butuh biaya besar dan waktu pendidikannya lama. Mahasiswa berjuang agar menjadi sarjana kedokteran, kemudian koas, PTT, hingga akhirnya memperoleh izin untuk praktek dokter umum. Setelah itu, jika ingin menjadi dokter spesialis maka butuh biaya yang lebih besar dan waktu pendidikan yang lebih lama lagi. Ini mah kalau saya lakoni bisa-bisa adek saya yang usianya terpaut 3 tahun di bawah saya lulus duluan. Hiii... nggak mau ah, gini-gini juga pengen ngerasain jadi kakak yang bisa ngasih uang jajan ke adeknya dari uang hasil kerja sendiri. Maka, bulatlah sudah keputusan saya untuk tidak mendaftar di fakultas kedokteran. Terima kasih banyak ya, Mbak Rosma, Mbak Anjar, dan segenap pengajar Bimbel Gema yang sudah membantu saya :)
Kegalauan berikutnya adalah ketika mau mendaftar SPMB. Saya pilih jurusan apa, ya? Saya tidak menyiapkan jurusan cadangan, jadi bingung deh harus pilih apa. Di saat-saat itu, pertolongan Tuhan datang tak terduga. Tiba-tiba teman-teman SMP saya yang bersekolah di SMF (Sekolah Menengah Farmasi) datang, main ke rumah. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama sekolah di Farmasi. Farmasi itu ternyata menarik juga, ya? Dekat lagi sama bidang ilmu kedokteran, sama-sama tentang kesehatan namun dari sudut yang berbeda. Akhirnya, mantaplah saya memilih jurusan Farmasi. Puji Tuhan, atas kemurahan-Nya, saya diizinkan untuk kuliah di jurusan Farmasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung hingga lulus pendidikan profesi Apoteker.
Saya tidak menyesal tidak jadi dokter, malah bersyukur atas kehidupan saya yang sekarang. Saya percaya dan yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Rencana-Nya indah pada waktunya. Pertolongan-Nya selalu ada dengan cara yang mungkin tidak kita duga.
Saya ingin berterima kasih kepada orang tua, saudara-saudara, guru-guru, teman-teman, dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dan berperan menjadikan saya ada seperti sekarang.
Salam,
Tita Mintarsih
Mulai dari TK sampai SMU, cita-cita saya yang pertama tidak berubah yaitu ingin menjadi dokter spesialis anak. Alasannya sederhana yaitu karena sejak kecil, saya cenderung sakit-sakitan dan bolak-balik periksa ke dokter spesialis anak. Saya masih ingat dokter spesialis anak langganan kami namanya dr. Zainal. Kesan yang saya tangkap waktu itu, Pak dokter pinter bangeeet, baik lagi, ingin deh saya seperti beliau. Sejak itu, terpatri di ingatan saya bahwa kalau saya besar, saya ingin jadi dokter spesialis anaak seperti beliau.
Ketika lulus SMU, mulailah kegalauan melanda. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kondisi finansial kami tidak mencukupi bila saya kuliah di jurusan kedokteran. Seandainya pun bisa, kemungkinannya adalah saya bisa kuliah di kedokteran tetapi adek saya tidak punya kesempatan untuk kuliah karena tidak ada biaya. Waaah, ga mau donk saya kalau itu sampai kejadian. Kasihan adek saya. Maunya kan kami berdua sama-sama bisa kuliah dan lulus dengan baik.
Penguatan saya dapatkan ketika mengikuti bimbingan belajar di Gereja Mahasiswa Bandung. Pengajarnya adalah kakak-kakak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di Bandung. Saat itu saya dipertemukan dengan Mbak Rosma, mahasiswa fakultas kedokteran Unpad angkatan 98. Beliau menceritakan realita kehidupan mahasiswa kedokteran dan setelah lulusnya seperti apa. Saya masih ingat Mbak Rosma bilang agar saya berpikir matang-matang. Kuliah di kedokteran itu butuh biaya besar dan waktu pendidikannya lama. Mahasiswa berjuang agar menjadi sarjana kedokteran, kemudian koas, PTT, hingga akhirnya memperoleh izin untuk praktek dokter umum. Setelah itu, jika ingin menjadi dokter spesialis maka butuh biaya yang lebih besar dan waktu pendidikan yang lebih lama lagi. Ini mah kalau saya lakoni bisa-bisa adek saya yang usianya terpaut 3 tahun di bawah saya lulus duluan. Hiii... nggak mau ah, gini-gini juga pengen ngerasain jadi kakak yang bisa ngasih uang jajan ke adeknya dari uang hasil kerja sendiri. Maka, bulatlah sudah keputusan saya untuk tidak mendaftar di fakultas kedokteran. Terima kasih banyak ya, Mbak Rosma, Mbak Anjar, dan segenap pengajar Bimbel Gema yang sudah membantu saya :)
Kegalauan berikutnya adalah ketika mau mendaftar SPMB. Saya pilih jurusan apa, ya? Saya tidak menyiapkan jurusan cadangan, jadi bingung deh harus pilih apa. Di saat-saat itu, pertolongan Tuhan datang tak terduga. Tiba-tiba teman-teman SMP saya yang bersekolah di SMF (Sekolah Menengah Farmasi) datang, main ke rumah. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama sekolah di Farmasi. Farmasi itu ternyata menarik juga, ya? Dekat lagi sama bidang ilmu kedokteran, sama-sama tentang kesehatan namun dari sudut yang berbeda. Akhirnya, mantaplah saya memilih jurusan Farmasi. Puji Tuhan, atas kemurahan-Nya, saya diizinkan untuk kuliah di jurusan Farmasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung hingga lulus pendidikan profesi Apoteker.
Saya tidak menyesal tidak jadi dokter, malah bersyukur atas kehidupan saya yang sekarang. Saya percaya dan yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Rencana-Nya indah pada waktunya. Pertolongan-Nya selalu ada dengan cara yang mungkin tidak kita duga.
Saya ingin berterima kasih kepada orang tua, saudara-saudara, guru-guru, teman-teman, dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dan berperan menjadikan saya ada seperti sekarang.
Salam,
Tita Mintarsih
Horeee.... Blog Baru Euy :D
Horeee.... berhasil euy buat blog di blogspot :D
Sebetulnya dulu sudah pernah tapi lupa karena sudah lama tidak dirawat dan lupa passwordnya apa hehe...
Jadilah saya buat baru, ini jadinya.
Blog ini saya buat sebagai ajang latihan menulis juga sebagai sarana berbagi informasi.
Judulnya saya buat "Life is Beautiful" karena hidup ini begitu indah menurut saya.
Semoga kita dan saya sendiri terutama bisa senantiasa bersyukur atas segala anugerah Tuhan untuk kita.
Semangat yah :D
Salam,
Tita Mintarsih
Sebetulnya dulu sudah pernah tapi lupa karena sudah lama tidak dirawat dan lupa passwordnya apa hehe...
Jadilah saya buat baru, ini jadinya.
Blog ini saya buat sebagai ajang latihan menulis juga sebagai sarana berbagi informasi.
Judulnya saya buat "Life is Beautiful" karena hidup ini begitu indah menurut saya.
Semoga kita dan saya sendiri terutama bisa senantiasa bersyukur atas segala anugerah Tuhan untuk kita.
Semangat yah :D
Salam,
Tita Mintarsih
Langganan:
Komentar (Atom)
