Sabtu, 17 November 2018

Review Film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald


Judul Film       : Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald
Genre              : Adventure, Fantasy
Sutradara         : David Yates
Penulis             : JK Rowling
Produksi          : Warner Bros, Pictures
Pemain            : Eddie Redmayne, Ezra Miller, Johnny Depp, Katherine Waterson, 
                          Jude Law, Zoe Kravitz, Carmen Ejogo, Alison Sudol, Claudia Kim, 
                          Callum Turner, Dan Fogler

Grindelwald (Johnny Depp) kabur dari penjara. Grindelwald yang saya tahu adalah seorang penyihir hitam besar di jamannya, jauh sebelum eranya Harry Potter dan Voldemort. Hal ini menyebabkan Albus Dumbledore (Jude Law) mengutus Newt Scamander (Eddie Redmayne) untuk menghentikan Grindelwald yang ingin menguasai dunia.

Di dalam film ini tokoh utamanya adalah Newt Scamander. Ia digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas, penyayang, dan teguh memegang prinsip. “Kau tidak mencari kekuasaan. Kau juga tidak mencari ketenaran. Kau hanya mempertanyakan apa yang benar,” demikian penjelasan Albus Dumbledore mengapa ia memilih Newt. Saya sangat terkesan atas jawaban Dumbledore ini. Pernyataan tersebut sangat relevan di dunia nyata. Untuk membela kebenaran diperlukan hati yang bersih, tidak tercemari oleh hasrat akan kekuasaan dan ketenaran.

Inti cerita di dalam film ini adalah tentang perjalanan Newt dalam menjalankan misinya. Meskipun demikian, ada juga cerita roman antara pasangan Newt - Tina Goldstein, Jacob – Queeny, juga kisah pencarian jati diri Credence.

Ada beberapa nama tokoh di film ini yang terasa familier, antara lain Leta Lastrange, Nagini, dan Nicholas Flammel. Leta Lastrange mengingatkan saya pada Bellatrix Lastrange, pengikut Voldemort yang setia. Bisa jadi Leta adalah leluhur Bellatrix Lastrange. Kalau sama Nagini sih pencinta serial Harry Potter pasti ingat kan ya? Sosok ular besar kesayangan Voldemort ini rasanya lumayan sering diceritakan. Nah, di film ini ditampilkan wujud yang sebenarnya dari Nagini. Ternyata Nagini itu adalah... ah, sudahlah tak perlu dibahas ya, nanti berkurang serunya hihihi... Yang jelas auranya Nagini itu misterius meskipun ada rasa iba juga ketika saya melihatnya. Konon katanya Nagini itu ditemukan dari rimba belantara Indonesia. Wooow....kereeen, Indonesia terkenal banget, sampat disebut dalam karya JK Rowling yang fenomenal ini. Kalau Nicholas Flammel sih saya kurang ingat bagaimana ceritanya, soalnya sudah belasan tahun berlalu sejak saya membaca serial Harry Potter.  

Setting lokasi yang digunakan di dalam film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald ini adalah Amerika, London, dan Perancis. Saya senang melihat kastil-kastil yang ditampilkannya, tampak keren dan megah. Adegan lilin-lilin menggantung di sekolah sihir Hogwart juga keren. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah adegan yang memperlihatkan rumah Newt. Iihhh kereeen banget. Ada danau di belakang rumahnya. Airnya berwarna biru kehijauan, agak gelap, terlihat tenang dan dalam. Saya membayangkan kalau berdiri di belakang rumah menghadap danau, hilang mungkin ya segala stress, pikiran jadi ikut terbawa tenang sepertinya. Selain danau, tangga-tangga di tengah rumah Newt juga keren. Meskipun demikian, jangan coba-coba membangun tangga seperti itu karena tidak ada pegangan tangannya. Kata orang K3 sih tangga demikian kurang aman. Tapi di dunia sihir mah bebas-bebas ajalah ya, siapa tahu pegangan tangannya ada tapi nggak kelihatan hihihi...

Hal lain yang berkesan bagi saya adalah musik pengiringnya, terutama pada adegan Queeny mengejar Jacob. Musik dan senandung yang dilantunkan rasanya sangat menyayat hati. Duh, kasihan deh melihat Queeny, saya jadi ikutan sedih.

Meskipun saya cukup menikmati film ini, pada beberapa adegan saya kurang memahami ceritanya. Mungkin hal ini disebabkan karena saya sudah banyak lupa cerita yang terjalin di Harry Potter atau bisa juga karena saya belum nonton film Fantastic Beast yang pertama.

Pesan moral yang saya dapat dari film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald ini yaitu jadilah seorang pembela kebenaran, bersihkan hati, bebaskan dari hasrat akan kekuasaan dan ketenaran. Selain itu, tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian. Di dalam hidup diperlukan perhatian, cinta, kasih sayang, dukungan keluarga serta teman. Jika semua hal itu tidak dimiliki, maka hati orang tersebut akan mengalami kekosongan. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh orang jahat. Si orang jahat mendekatinya dan bertingkah seperti teman atau keluarga. Orang yang hampa jiwanya ini menerima uluran tangan si jahat, tidak sadar bahwa dirinya akan dimanfaatkan. Oleh karena itu, tebarkanlah perhatian, kasih sayang, dan kebaikan bagi sesama kita.

Gambar dan keterangan film bersumber dari www.21cineplex.com


Minggu, 28 Oktober 2018

Review Film Hunter Killer

Judul Film       : Hunter Killer
Genre              : Action, Thriller
Sutradara         : Donovan Marsh
Produksi          : VVS Films
Pemain            : Gerard Butler, Gary Oldman, Common, Linda Cardellini, 
                          Toby Stephens




Yeayyy! Babang Gerard Butler main film lagi, asyiiikkk 😄 Sudah lama rasanya nggak nonton aksi heroiknya lagi seperti di Olympus Has Fallen, London Has Fallen, dan Geostorm. Makanya begitu tahu Hunter Killer yang dibintangi Gerard Butler sudah tayang, cuss deh langsung nonton hehe....

Film Hunter Killer dibuka dengan adegan yang menampilkan perairan Rusia. Permukaan air tampak tenang, dikelilingi oleh gunung es yang berdiri dengan gagah. Bongkahan-bongkahan es tampak mengapung di permukaan air. Jauh di bawah permukaan air, dasar gunung es masih terlihat. Kapal selam Akula milik Rusia tampak bergerak tenang, tak menyadari bahwa pergerakan kapalnya dibuntuti oleh kapal selam Tampa Bay milik Amerika. Tiba-tiba, kapal selam Akula meledak, diikuti ledakan yang juga terjadi di kapal selam Tampa Bay. Seketika komunikasi antara Tampa Bay dan pusat kendali pun terputus.

Di pusat kendali Amerika terjadi kehebohan karena hilangnya kontak dengan Tampa Bay. Kapal selam lainnya, USS Arkansas, akan dikirim untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan Tampa Bay. Permasalahannya USS Arkansas tidak memiliki komandan. Untuk itu, Laksamana Fisk (Common) mempromosikan Joe Glass (Gerard Butler) untuk menjadi komandan kapal selam USS Arkansas.

Penunjukkan Glass menuai kontroversi karena sebelumnya ia belum pernah menjadi komandan kapal. Kontroversi ini juga terjadi di antara para awak kapal. Mereka bergunjing, mempertanyakan kemampuan Glass, bahkan nyaris tak percaya harus bekerja di bawah kepemimpinannya. Kondisi ini mengingatkan saya pada kondisi nyata di kehidupan sehari-hari. Sebelum seorang pemimpin baru bertugas, ia harus “menaklukkan” para anggotanya terlebih dulu. Ia harus bisa mengambil hati dan memperoleh kepercayaan dari anggota-anggotanya untuk bekerja sama di bawah kepemimpinannya. Pada kondisi demikian, Glass menangani hal itu dengan baik. Cara Glass berbicara kepada para awaknya sangat menyentuh hati saya. Akhirnya USS Arkansas pun diberangkatkan dengan Glass sebagai komandannya.

Selama menjalankan misinya, banyak hal tak terduga yang dialami oleh USS Arkansas. Berkali-kali kemampuan Glass sebagai komandan harus diuji. Dalam waktu singkat, ia harus memutuskan pilihan mana yang harus diambil di antara berbagai pilihan lainnya yang berisiko tinggi. Saya sebagai penonton ikut merasa penasaran selama mengikuti perjalanan USS Arkansas. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran saya. Apa sih yang terjadi? Siapa yang meledakkan kapal selam Akula dan Tampa Bay? Apa motifnya? Apa yang diinginkannya? Pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya terjawab juga di filmnya. Ketegangan terbangun nyaris di sepanjang cerita dan jujur saja saya menikmatinya.

Ada beberapa adegan di film Hunter Killer yang sangat berkesan bagi saya. Adegan ketika kapal USS Arkansas mulai menyelam keren banget. Di situ diperlihatkan Glass dan beberapa awak berdiri dengan tubuh terdorong ke belakang tapi badannya tetap tegap dan tidak berpegangan. Kedua kaki mereka juga tetap menapak di lantai. Iihh keren banget. Kesan yang ditimbulkan dari adegan ini yaitu mereka tampak optimis dan siap menjalankan tugas, tak peduli apapun yang akan mereka hadapi kemudian. 

“Capt, tetaplah tegar. Biarkan kami saja yang merasa takut,” ucap salah seorang awak kapal. Glass tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan awaknya. Saya jadi ikut tersenyum, menyadari bahwa tanggung jawab seorang pemimpin itu sangatlah besar. Ketika keadaan berubah tidak menentu, seorang pemimpin harus tetap tegar dan kuat. Ia menjadi andalan para anggotanya. Jika pemimpin memperlihatkan ketakutannya, maka yang terjadi adalah para anggota akan menjadi lebih takut lagi sehingga tidak akan fokus untuk bekerja. Kondisi demikian akan memicu terjadinya kesalahan yang lebih besar dalam bekerja.

Dalam film Hunter Killer ini, Gerard Butler bermain apik. Berbagai dilema yang dialaminya dapat diekspresikan dengan baik. Selain Gerard Butler, saya terkesan dengan aktingnya Michael Nyqvist. Ia berperan sebagai Kapten Sergei Andropov, komandan kapal selam Rusia. Di film ini, Michael Nyqvist tidak banyak bicara, tapi meskipun diam ekspresinya mampu menyiratkan bahwa ia adalah orang yang hebat.

Lokasi yang dijadikan sebagai setting cerita juga sangat menarik. Pemandangan Arkansas Highland dan lokasi yang dijadikan sebagai tempat USS Arkansas mengapung ke permukaan sangatlah indah. Bukit-bukit yang hijau dan tercermin di permukaan air yang tenang membuat saya ingin pergi ke sana. Amiiin, semoga kapan-kapan diizinkan Tuhan nengokin lokasi pembuatan film Hunter Killer ini hehe...

Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari film Hunter Killer, di antaranya adalah seorang pemimpin yang baik itu tegar, kuat, dapat dipercaya dan diandalkan. Ia peduli dengan para anggotanya dan tidak sekali pun meninggalkan anggotanya dalam kesulitan. Pelajaran lainnya yaitu dalam menjalani kehidupan, ada banyak hal yang akan kita hadapi. Terkadang berbagai pilihan yang kita punya tidak ada yang baik, semuanya mungkin buruk atau berisiko tinggi. Pada kondisi demikian kita dituntut untuk tetap tenang agar dapat membuat keputusan yang terbaik. Selain itu, terkait pertikaian antar negara, akar masalahnya bisa saja disebabkan oleh segelintir oknum yang berbuat onar. Oknum tersebut membuat masalah menjadi besar sehingga menyebabkan dua negara dalam kondisi bertikai atau siap bertempur. Jika para pemimpin negara tidak bersikap bijak, maka perang pun menjadi tidak terelakkan. Bagaimana pun juga, damai itu memang kondisi yang paling indah dan menyenangkan.

Jumat, 06 Juli 2018

REVIEW FILM ANT-MAN AND THE WASP


Judul Film     : Ant-Man and The Wasp
Genre            : Action, Adventure, Sci-Fi
Sutradara      : Peyton Reed
Produksi       : Walt Disney Pictures
Pemain         : Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Douglas, Abby Ryder Fortson




Gambar bersumber dari www.21cineplex.com

Dulu, ketika sedang bermacet-macet ria, saya pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika manusia punya kemampuan mengecilkan mobil beserta penumpangnya. Dalam sekejap, mereka bisa mengecil dan menerobos ke kolong-kolong mobil lain di depannya. Kalau bisa seperti ini, yakinlah kemacetan pun tidak akan terjadi. Sekian tahun berikutnya ternyata apa yang pernah saya khayalkan itu tervisualisasi di dalam film Ant-Man. Saat ini sedang tayang film tersebut sekuel kedua yang berjudul Ant-Man and The Wasp. Sebagai seorang penggemar film action dan science fiction, tentunya film tersebut tidak akan saya lewatkan.

Di awal film, diceritakan bahwa Scott Lang (Paul Rudd), sang manusia semut alias Ant-Man, menjadi tahanan rumah. Ia menciptakan berbagai permainan menarik yang bisa dimainkan di dalam rumah bersama Cassie, putrinya. Permainannya seru, sebuah petualangan yang tak terpikir bisa dibangun di dalam rumah. Saya kagum melihatnya. ‘Wow, niat banget ya bikin permainan seperti itu untuk putrinya,” begitu pikir saya.

Adegan lain yang menyentuh saya adalah ketika Maggie, mantan istri Lang, datang menjemput Cassie bersama dengan suaminya. Cassie, Lang, Maggie, dan suami Maggie saling berpelukan. Melihat adegan tersebut saya membayangkan bahwa Cassie tumbuh di dalam suasana yang penuh kasih sayang, meskipun orang tuanya tidak lagi bersama. Hati saya menjadi hangat melihatnya.

Jika Lang menjadi tahanan rumah, Dr. Hank Pym (Michael Douglas) dan puterinya yaitu Hope Van Dyne (Evangeline Lilly) menjadi buronan. Kedua ilmuwan jenius itu tidak tertangkap karena mereka memiliki kemampuan untuk mengecilkan tubuh dan benda-benda di sekitarnya. Dengan kemampuan tersebut, mereka dapat berpindah tempat sesukanya tanpa diketahui oleh pihak yang berwenang.

Hank Pym dan Hope van Dyne diam-diam melakukan penelitian untuk mengungkap sebuah rahasia besar di masa lalu. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja menyebabkan Hope menculik Lang dan memaksanya untuk bergabung di dalam proyek mereka.

Banyak hambatan terjadi pada penelitian mereka. Beberapa pihak mengincar penelitian tersebut yaitu seorang kriminal bernama Sonny Burch, serta Ghost alias manusia hantu. Kehadiran Ghost mampu membuat saya bertanya-tanya karena sosoknya sangat misterius. Tujuannya mengincar penelitian Hank Pym dan Hope tidak terbaca dari awal. Ia menjadi ancaman serius karena memiliki kemampuan yang tidak biasa.

Jika superhero yang lain terkesan benar-benar super, menurut saya Ant-Man ini adalah sosok superhero yang manusiawi. Di samping menjadi seorang superhero, ia adalah seorang ayah yang hangat dan kadang melakukan kecerobohan yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Saya senang menonton film ini. Gambarnya bagus, ceritanya juga tidak membosankan. Naik turunnya cerita, ketegangan dan humor tersampaikan dengan baik sehingga saya merasa tidak kehilangan konsentrasi dari awal hingga akhir cerita. Kostum Ant-Man dan The Wasp menarik, bahkan kostum Ant-Man yang baru menjadi cerita tersendiri. Pesan yang saya ambil dari film ini adalah tidak ada seorang pun yang rela kehilangan keluarganya. Selain itu, untuk mencapai tujuan kita sangatlah tidak etis jika pelaksanaannya harus menyakiti orang lain. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Bill Foster, rekan Hank Pym dalam proyek terdahulu, seperti yang dikatakan olehnya kepada Ghost.

Film ini Ant-Man and The Wasp ini cocok ditonton oleh Anda bersama dengan anak remaja usia 13 tahun ke atas.