Judul : Ukiran Rasa
Penulis : Nurdianah Dixit
Jumlah
Halaman : 110 halaman
Harga
Buku : 45 ribu
Harga
Ebook : 15 ribu
Apa
kesan pertama Anda ketika mendengar kata Ukiran
Rasa? Kalau saya, begitu mendengar kata Ukiran Rasa, saya langsung terbayang sesuatu yang menyentuh hati,
perasaan mengharu biru hingga hati bagaikan diremas-remas.
Ternyata,
senada dengan yang saya bayangkan penulis menuliskan bahwa Ukiran Rasa adalah
kisah tentang cinta, perjuangan, dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa. Tidaklah
berlebihan penulis menyatakan demikian karena memang banyak kejadian yang
terjadi di dalam hidup sehari-hari dengan berbagai perasaan yang menyertainya.
Di
dalam buku ini, penulis mengukirkan rasanya ke dalam 9 cerita pendek dan 19
puisi. Saya senang membacanya. Ada banyak pelajaran
kehidupan yang bisa saya dapatkan dari sana.
Cerita
pertama menyentuh hati saya. Judulnya Selimut untuk Raka. Cerita ini berkisah
tentang Raka yang tenggelam ke dalam empang. Kepergiannya menimbulkan duka yang
mendalam bagi orang tuanya dan penyesalan di hati ibunya karena ada janji yang
belum ditunaikan.
Sebelum
kejadian itu, Raka selalu minta diantar ke sekolah oleh ibunya namun belum
terlaksana karena ibunya sedang banyak pekerjaan. Sang Ibu menjanjikan akan
memenuhi permintaan Raka di lain waktu. Tak terduga, siang harinya Raka
tenggelam ke dalam empang tanpa ada yang mengetahuinya. Ayahnya yang mencari
Raka terjun ke dalam empang setelah melihat sandal dan mainan Raka di dekat
empang. Tanpa mempedulikan bau yang menyengat beliau mencari Raka
di dalam empang. Akhirnya Raka ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sang ayah
tenggelam dalam duka berkepanjangan, belum bisa menerima bahwa Raka telah
tiada. Si Ibu sendiri merasa menyesal karena belum menepati janjinya pada Raka
dan sedih melihat keadaan suaminya.
Saya
tersentuh membaca cerita ini karena saya sendiri adalah seorang perempuan
bekerja. Melalui cerita ini saya diingatkan bahwa sesibuk apapun pekerjaan
saya, perhatian kepada keluarga adalah hal yang utama.
Cerita
yang kedua berjudul Malaikat Subuh Bersepeda. Cerita ini berkisah tentang
seorang laki-laki yang selalu bersepeda setiap subuh. Ia membunyikan klakson
sepedanya yang sudah dimodifikasi hingga bunyinya bisa membangunkan para santri.
Bila ada santri yang terlambat berangkat ke masjid, ia tidak segan-segan
memberikan hukuman bagi pelakunya. Itu dilakukannya tanpa pandang bulu meski
yang terlambat adalah pengurus gedung sekalipun.
Dari
sudut pandang pelaku yang terlambat berangkat ke masjid, laki-laki bersepeda
itu dianggap sebagai orang yang jahat. Namun bila dilihat dari sudut pandang
lain, laki-laki itu sesungguhnya mengajarkan kebaikan. Ia membantu membangunkan
para santri setiap subuh dan melatih mereka agar disiplin.
Cerita
ketiga adalah cerita favorit saya. Judulnya adalah Cinta Lelaki di Ujung Senja.
Membaca cerita ini saya merasa tak habis pikir. Bagaimana bisa sebuah
pernikahan bisa terancam perceraian karena sebuah mesin cuci? Duh, jangan
sampai deh terjadi pada kita. Selesai membaca cerita ini rasanya saya ingin
cepat pulang, bertemu suami dan mengatakan 'I love you and I respect you'.
Rasanya
tidak seru ya kalau saya ceritakan semuanya. Lebih baik Anda baca saja buku
atau ebooknya untuk cerita lengkapnya. Anda tidak akan menyesal membaca buku
ini karena ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa diperoleh dari buku ini.
Penulis
buku Ukiran Rasa ini, Mbak Nurdianah Dixit, dapat dihubungi di akun facebook beliau:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar