Kamis, 23 Februari 2017

Mengapa Saya Diet?


Kalau diingat-ingat rasanya sejak SD saya sudah merasa takut melihat timbangan. Bagaimana tidak, setiap kali ada penimbangan berat badan,  saya pasti masuk dalam golongan murid yang underweight hikss .... Setelahnya siap-siap deh saya menerima pesan-pesan cinta dari Ibu Guru.

Setelah bekerja saya masih saja merasa takut melihat timbangan. Kali ini berlaku sebaliknya. Ingin sekali rasanya menghentikan laju jarum timbangan yang terus bergerak ke kanan setiap saya ditimbang. Yang paling menyedihkan adalah hasil perhitungan BMI (Body Mass Index) menunjukkan kalau saya sudah masuk ke dalam kategori obesitas. Hiks ... ironis sekali jika dibandingkan dengan waktu saya di SD.

Kalau dipikir-pikir, wajar saja kalau saya punya banyak kelebihan. Ehmm ... kelebihan lemak maksudnya hehe .... Aktivitas saya di kantor sebagian besar adalah duduk di depan komputer, kurang gerak jadinya. Apalagi ditambah godaan cemilan dari Nusantara yang dibawakan teman-teman sepulang berdinas sukses melambungkan berat badan saya.

Kebetulan saya bukan orang yang minderan, jadi pede-pede saja. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan penampilan. Saya merasa kalau saya baik-baik saja dan tetap cantik. Uhukk ... dilarang protes ya, suka-suka yang nulis saja hahaha ....

Suatu hari saya ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti pelatihan mengenai penyakit tidak menular. Narasumbernya mengatakan bahwa saat ini trend penyebab kematian sudah mulai bergeser dari penyakit menular menjadi tidak menular. Penyakit tidak menular itu di antaranya hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, kanker, dan sebagainya. Penyakit ini jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi bahkan kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala untuk mendeteksi dan mengendalikan faktor risiko penyebab penyakit tidak menular. Berat badan berlebih disebut sebagai salah satu faktor risiko penyakit tidak menular yang perlu dikendalikan. Hiks ... mulailah duduk saya gelisah, merasa tidak nyaman.

Di lain waktu, saya kembali ditugaskan untuk mengikuti kegiatan di KM Kelud. Pagi-pagi sekali saya sudah sampai di dermaga tempat kapal itu bersandar. Hari masih gelap, lampu-lampu KM Kelud masih menyala dengan cantiknya. Terpesona saya dibuatnya sehingga tidak ingin melewatkan kesempatan berpose dengan latar belakang KM Kelud. Ketika melihat fotonya, nyaris saya tidak percaya. Wah, sebesar itukah saya?



Mulailah timbul niat kalau saya harus melakukan sesuatu untuk menurunkan berat badan.


-to be continue-

Minggu, 05 Februari 2017

Tips Manajemen Waktu



Teman-teman, pernahkah merasa bahwa waktu 24 jam dalam sehari itu kurang? Saya pernah. Padatnya aktivitas terasa menggempur keseharian saya. Rasanya pekerjaan tak kunjung selesai, tidak cukup beristirahat, dan tidak punya kesempatan untuk melakukan hobby yang saya suka. Interaksi dengan keluarga pun terbatas. Pada kondisi ini saya merasa sangat letih. Untuk mengatasinya, saya memerlukan manajemen waktu yang baik.

Bagaimana cara manajemen waktu yang baik?
Berikut ini adalah tips yang saya dapatkan dari Teh Indari Mastuti, CEO Indscript:
  1. Mulailah dengan mencatat semua aktivitas harian yang rutin dilakukan beserta estimasi waktu yang dibutuhkan.
  2. Identifikasi kegiatan apa saja yang dapat dilakukan secara paralel. Misalnya pada saat memasak nasi. Sambil menunggu nasi matang, kita bisa mencuci piring.
  3. Tentukan skala prioritas aktivitas tersebut. Bagilah aktivitas ke dalam kategori penting dan mendesak, penting, tidak penting tapi mendesak, tidak penting dan tidak mendesak.
  4. Kerjakan aktivitas dalam kategori penting dan mendesak terlebih dahulu. Lanjutkan dengan kategori penting kemudian aktivitas yang tidak penting tapi mendesak. Aktivitas dengan kategori tidak penting dan tidak mendesak dapat dikerjakan bila masih ada waktu atau malah tidak perlu dilaksanakan.


Bagaimana cara manajemen waktu bagi perempuan yang bekerja kantoran seperti saya?
Pada prinsipnya adalah sama saja. Lakukan keempat langkah di atas untuk melaksanakan pekerjaan kantor pada jamnya. Aktivitas lainnya dapat diatur untuk dilaksanakan di luar jam kantor berdasarkan skala prioritasnya.

Kita juga harus jeli memanfaatkan waktu luang atau waktu tunggu. Misalnya jika kita berangkat ke kantor naik bis jemputan, kita bisa memanfaatkan waktu tersebut agar menjadi produktif. Aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu antara lain menggali ide, riset untuk bahan artikel, atau menulis menggunakan aplikasi di handphone. Waktu istirahat dan perjalanan pulang dari kantor pun dapat dimanfaatkan.

Kunci agar manajemen waktu dapat berjalan dengan baik adalah disiplin dalam mengerjakan aktivitas yang sudah direncanakan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah fokus. Pada jam kantor, fokuslah untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Ketika berganti ke jadwal lain, pindahkan fokus kita ke aktivitas yang seharusnya dikerjakan.

Dengan memiliki manajemen waktu yang baik, pekerjaan kantor maupun urusan rumah tangga dapat tertangani. Interaksi dan silaturahim dengan keluarga dan teman-teman pun dapat terjaga. Selain itu kita juga masih bisa mengerjakan hobby yang kita suka. Menyenangkan, bukan? :)