Selasa, 31 Januari 2017

Menulis adalah Terapi



Menulis adalah Terapi. Pertama kali saya mendengar petuah ini kalau tidak salah dari Mbak Artha Julie Nava. Katanya dengan menulis kita bisa relaksasi dan menstabilkan emosi.

Saya dengarkan baik-baik petuah tersebut namun belum sepenuhnya saya yakini. Waktu itu saya sedang mulai belajar menulis. Yang saya rasakan justru sebaliknya. Menulis itu malah membuat saya stress. Saya merasa tertekan karena peer-peer dari kelas menulis membuat pikiran saya terkuras. Saya harus memikirkan berbagai ide tulisan, berbagai alternatif judul, pesan yang ingin disampaikan, hingga dikejar deadline. 'Di mana letak terapinya?' pikir saya waktu itu.

Anehnya meskipun saya merasa tertekan, saya selalu kembali ke kelas training menulis. Entah apa yang memanggil saya. Perlahan-lahan saya cerna ilmunya dan mulai saya praktekkan.

Karena merasa berat bila menulis langsung satu buku, saya ikut kelas Menulis Artikel di Joeragan Artikel. Saya pikir menulis artikel jauh lebih ringan dibanding buku. Jumlah kata di dalam artikel jauh lebih sedikit dibanding buku. 

Ketika Joeragan Artikel hendak merayakan ulang tahunnya yang pertama, Foundernya yaitu Ummi Aleeya berniat membuat sebuah antologi. Beliau mengundang seluruh alumni training-nya untuk berpartisipasi di dalam proyek antologi tersebut. Wow, sebuah kesempatan besar pikir saya. Tanpa ragu saya mendaftar walaupun waktu itu belum punya ide cerita. 

Untuk proyek antologi, Ummi memberikan deadline selama 2 minggu. Selama waktu tersebut, saya tak kunjung menemukan ide. Ide baru saya dapatkan menjelang deadline. Sementara itu, karya para alumni lain terus mengalir. Wah, bagus-bagus ceritanya. Tambah nggak pede deh saya. Nyaris saya menyerah tapi tersentil oleh perkataan salah seorang alumni yang mengatakan, "Semoga tidak ada yang lari dari kenyataan." Haha ... baiklah, kembalilah saya menekuni naskah yang belum selesai. 

Akhirnya setelah sempat begadang, naskah pun selesai. Ada perasaan lega yang luar biasa setelah saya berhasil menyelesaikan naskah. Dengan memberanikan diri, saya kirimkan naskah tersebut ke group Antologi. Perasaan lega pun bertambah saya rasakan ketika naskah saya dapat diterima dengan baik. Teman-teman sesama alumni pun berbaik hati memberikan kritik dan saran agar naskah menjadi lebih baik. Senang hati saya karenanya.

Efek dari berpartisipasi dalam proyek antologi tersebut, saya jadi ketagihan menulis.
Pagi hari ketika saya masih di perjalanan menuju kantor, saya menulis dengan memanfaatkan aplikasi Notes di handphone. Saya bebaskan pikiran dan tangan saya untuk menulis suka-suka. Tak masalah bila tulisan yang dihasilkan masih kasar. Saya merasa lega dan bahagia ketika berhasil menyelesaikan satu calon naskah di pagi hari. Perasaan positif di pagi hari itu tentunya menjadi awal yang sangat baik untuk memulai hari. Saya mulai merasakan kebenaran petuah bahwa menulis adalah terapi. Terapi bagi jiwa kita.

Setelah calon naskah selesai di pagi hari, calon naskah tersebut saya endapkan. Siang hari, pada jam istirahat, saya kembali lagi menengok calon naskah tersebut. Saya membaca ulang dan mengeditnya. Perasaan senang kembali saya rasakan ketika naskah saya selesai. Langkah selanjutnya adalah memasukkan naskah saya ke Plagiarism Checker. Saya merasa bertambah senang ketika hasil pengecekan menyatakan bahwa naskah saya 100% unik. Artinya naskah yang saya buat bebas copy paste, bebas plagiat.

Dari menulis satu naskah, saya bisa merasa lega, senang dan bahagia berkali-kali. Mood dan emosi saya pun bisa terjaga dengan baik sepanjang hari. Sekarang saya meyakini bahwa memanglah benar menulis adalah terapi bagi jiwa kita.

Anda ingin mencobanya? Yuk, kita berlatih menulis. :)



Gambar bersumber dari http://buahhati.co.id/cara-membuat-anak-rajin-menulis.html

Minggu, 29 Januari 2017

Review Ukiran Rasa


Judul                           : Ukiran Rasa
Penulis                        :  Nurdianah Dixit
Jumlah Halaman         : 110 halaman
Harga Buku                 : 45 ribu
Harga Ebook               : 15 ribu

Apa kesan pertama Anda ketika mendengar kata Ukiran Rasa? Kalau saya, begitu mendengar kata Ukiran Rasa, saya langsung terbayang sesuatu yang menyentuh hati, perasaan mengharu biru hingga hati bagaikan diremas-remas.

Ternyata, senada dengan yang saya bayangkan penulis menuliskan bahwa Ukiran Rasa adalah kisah tentang cinta, perjuangan, dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa. Tidaklah berlebihan penulis menyatakan demikian karena memang banyak kejadian yang terjadi di dalam hidup sehari-hari dengan berbagai perasaan yang menyertainya.

Di dalam buku ini, penulis mengukirkan rasanya ke dalam 9 cerita pendek dan 19 puisi. Saya senang membacanya. Ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa saya dapatkan dari sana.

Cerita pertama menyentuh hati saya. Judulnya Selimut untuk Raka. Cerita ini berkisah tentang Raka yang tenggelam ke dalam empang. Kepergiannya menimbulkan duka yang mendalam bagi orang tuanya dan penyesalan di hati ibunya karena ada janji yang belum ditunaikan.

Sebelum kejadian itu, Raka selalu minta diantar ke sekolah oleh ibunya namun belum terlaksana karena ibunya sedang banyak pekerjaan. Sang Ibu menjanjikan akan memenuhi permintaan Raka di lain waktu. Tak terduga, siang harinya Raka tenggelam ke dalam empang tanpa ada yang mengetahuinya. Ayahnya yang mencari Raka terjun ke dalam empang setelah melihat sandal dan mainan Raka di dekat empang. Tanpa mempedulikan bau yang menyengat beliau mencari Raka di dalam empang. Akhirnya Raka ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sang ayah tenggelam dalam duka berkepanjangan, belum bisa menerima bahwa Raka telah tiada. Si Ibu sendiri merasa menyesal karena belum menepati janjinya pada Raka dan sedih melihat keadaan suaminya.

Saya tersentuh membaca cerita ini karena saya sendiri adalah seorang perempuan bekerja. Melalui cerita ini saya diingatkan bahwa sesibuk apapun pekerjaan saya, perhatian kepada keluarga adalah hal yang utama.

Cerita yang kedua berjudul Malaikat Subuh Bersepeda. Cerita ini berkisah tentang seorang laki-laki yang selalu bersepeda setiap subuh. Ia membunyikan klakson sepedanya yang sudah dimodifikasi hingga bunyinya bisa membangunkan para santri. Bila ada santri yang terlambat berangkat ke masjid, ia tidak segan-segan memberikan hukuman bagi pelakunya. Itu dilakukannya tanpa pandang bulu meski yang terlambat adalah pengurus gedung sekalipun.

Dari sudut pandang pelaku yang terlambat berangkat ke masjid, laki-laki bersepeda itu dianggap sebagai orang yang jahat. Namun bila dilihat dari sudut pandang lain, laki-laki itu sesungguhnya mengajarkan kebaikan. Ia membantu membangunkan para santri setiap subuh dan melatih mereka agar disiplin.

Cerita ketiga adalah cerita favorit saya. Judulnya adalah Cinta Lelaki di Ujung Senja. Membaca cerita ini saya merasa tak habis pikir. Bagaimana bisa sebuah pernikahan bisa terancam perceraian karena sebuah mesin cuci? Duh, jangan sampai deh terjadi pada kita. Selesai membaca cerita ini rasanya saya ingin cepat pulang, bertemu suami dan mengatakan 'I love you and I respect you'. 

Rasanya tidak seru ya kalau saya ceritakan semuanya. Lebih baik Anda baca saja buku atau ebooknya untuk cerita lengkapnya. Anda tidak akan menyesal membaca buku ini karena ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa diperoleh dari buku ini.

Penulis buku Ukiran Rasa ini, Mbak Nurdianah Dixit, dapat dihubungi di akun facebook beliau: